Kamis, 18 Desember 2014

Cabut voer sebelum tidur agar burung bakalan rajin bunyi

Meski harga burung bakalan tidak jauh berbeda dari burung dewasa, banyak kicaumania memilih untuk merawat burung bakalan. Ya, burung bakalan memang punya daya tarik tersendiri. Sebagian kicaumania menganggapnya sebagai tantangan untuk menjadikannya sebagai burung berkualitas. 

burung bakalan di pasar burug
Memilih burung di pasar burung | Foto wikimapia.org

Burung bakalan yang ada di pasar burung umumnya terbagi menjadi dua kategori:
1. Burung bakalan yang baru didapatkan dari pengepul atau hasil tangkapan hutan.
2. Burung bakalan yang sudah lama dipelihara (biasanya pemilik lama tukar tambah dengan burung lain).

Untuk bisa membedakan mana burung bakalan yang baru dan burung bakalan yang sudah lama, tentu tidak sulit. Burung bakalan yang sudah lama biasanya disimpan dalam sangkar terpisah, adapun burung bakalan yang masih baru umumnya ditempatkan dalam kandang ombyokan.
Selain itu, bentuk kotoran dan pakan yang dikonsumsinya pun berbeda. Burung yang sudah lama dipelihara tentu sudah terlatih makan voer sehingga bentuk kotorannya menjadi lebih padat. Adapun  burung yang masih baru umumnya belum mengenal voer, atau sedang dilatih makan voer, sehingga kotorannya masih berbentuk cairan bercampur warna keputihan.

kotoran-burung
Bandingkan kotoran burung bakalan yang belum makan voer (kiri) dan sudah makan voer.

Karena itu, jika Anda termasuk orang sibuk dan tidak mau repot dengan melatih makan voer, sebaiknya memilih burung bakalan rawatan lama. Sebab perawatan lanjutannya pun cenderung lebih mudah, karena tugas kita tinggal melatihnya agar lebih rajin berbunyi.
Dalam tips kali ini, kita akan membahas metode cabut voer sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar ketika burung bangun di pagi hari, pakan yang pertama dicerna tubuhnya adalah protein hewani (serangga atau kroto), sehingga secara perlahan bisa membentuk karakter dan mentalnya sebagaimana di alam liar.
Selain itu, cabut voer sebelum tidur juga bisa menjadi salah satu metode penjinakan burung yang cukup efektif dan mampu mencegah burung dari kegemukan yang kerap membuat burung malas beraktivitas dan malas berkicau.
Metode cabut voer sebelum tidur dilakukan dengan cara mengangkat wadah voer ketika hari sudah mulai gelap. Untuk itu diperlukan kebiasaan yang teratur setiap malamnya. Misalnya sejak pukul 18.30, atau bisa juga 19.00, wadah voerd dicabut dan burung dibiarkan beristirahat dengan mematikan lampu ruangannya.
Untuk burung bakalan, sebaiknya dibiasakan tidak terlalu beraktivitas pada malam hari. Misalnya lampu ruangan dibiarkan terang agar burung mau berkicau. Sebab hal itu dapat mempengaruhi kondisi burung yang menyebabkan dia terbiasa bunyi jika suasana sedang sepi.
Pada pagi harinya, sekitar pukul 05.00 – 05.30, barulah lampu ruangan dinyalakan. Kemudian setelah pukul 05.30, burung dikeluarkan untuk diembunkan.
Pada saat pengembunan, burung hanya diberi pakan kroto sebanyak satu sendok teh, agar ia bisa mencerna protein hewani sebagai pakan pertamanya sebelum beraktivitas. Sebab kroto merupakan pakan berprotein tinggi, juga sumber energi yang baik bagi burung melakukan aktivitas hariannya beberapa jam ke depan.

Note: Jika Anda sedang tidak memiliki kroto, burung bisa diberi jangkrik atau ulat hongkong sebagai sumber protein hewaninya.
Setelah burung dimandikan, atau sekitar pukul 06.30 – 07.00, barulah pakan voer bisa diberikan. Untuk selanjutnya, Anda bisa menjalankan perawatan harian seperti biasanya.
Kalau perawatan ini dilakukan secara rutin dan teratur setiap hari, maka dalam beberapa hari burung bakalan menjadi lebih rajin berbunyi. Pada burung bakalan yang sebelumnya hanya ngeriwik saja, mereka akan cepat terpancing untuk ngeplong atau berlatih ngeplong jika umurnya masih muda.

Semoga bermanfaat.

Mengurangi perilaku agresif burung ketika hendak dijodohkan

Salah satu kendala yang sering dialami para penangkar adalah burung jantan dan betina tidak mau berjodoh. Umumnya, hal itu ditandai dengan perilaku salah satu burung yang terlampau agresif, sering menyerang calon pasangannya. Karena itu, sebelum mulai menangkar burung, ada baiknya Anda cermati beberapa hal berikut ini, yang bisa membantu mengurangi perilaku agresif burung ketika hendak dijodohkan.

burung teritorial
Sifat agresif burung tercermin dalam sifat teritorialnya.

Penjodohan burung dilakukan ketika kita memiliki burung jantan dan betina yang belum saling mengenal. Ketika burung hendak dijodohkan, terkadang muncul berbagai permasalahan yang bisa menghambat rencana kita dalam menangkar atau beternak burung.

Kasus yang sering terjadi adalah salah satu burung terlalu agresif dan menyerang calon pasangannya. Bukan itu saja, sering terjadi pula burung yang begitu agresifnya sampai calon pasangannya mati (terbanyak pada murai batu). Korbannya bisa burung betina, tetapi bisa juga burung jantan.
Di sinilah sebenarnya trik-trik penjodohan harus diterapkan, antara lain mengatur kondisi birahi dari burung jantan dan betina yang mau dijodohkan.

Burung-burung kicauan seperti ciblek, murai batu, dan kacer memiliki sifat teritorial. Sifat itu akan ditunjukkan terhadap burung lain yang ada di dekatnya, baik jantan dan betina. Sebab, ia akan menganggap sangkar dan aksesoris sangkar lainnya (wadah pakan, wadah minum, tenggeran) sebagai wilayah kekuasaannya yang harus dijaganya.

Pakan maupun air minum di dalam wadah masing-masing pun akan dipertahankannya, agar jangan sampai ada burung lain yang mengambilnya. Tanpa melalui proses perkenalan (prapenjodohan), burung akan menunjukkan sifat terirotialnya dan akan mencoba mengusirnya, bahkan bisa berlaku agresif dengan menyerangnya. Sifat teritorial akan hilang ketika burung sudah benar-benar berjodoh.

Burung agresif
Ilustrasi: Sifat agresif burung bisa muncul ketika hendak dijodohkan.

Karena itu, ketika kita hendak menjodohkan burung, wajib melalui tahapan pengenalan dulu. Dalam hal ini, burung jantan dan betina jangan langsung dipertemukan, tetapi dipisahkan dulu dalam jarak cukup jauh atau disimpan di lokasi yang tidak terlihat oleh masing-masing burung selama beberapa hari (istilahnya “dipingit”, he.. he.. he.. ).

Dengan demikian, masing-masing burung hanya bisa mendengar suaranya. Metode ini bisa meredam emosi dan sifat agresif burung, sekaligus membuat burung jantan dan betina penasaran.
Beberapa hari kemudian, barulah kedua burung didekatkan. Proses pendekatan ini dilakukan dengan menggantang sangkar burung jantan dan sangkar burung betina dalam jarak 1 meter. Jika jantan atau betina mulai menunjukkan rasa ketertarikan masing-masing, barulah sangkarnya didempetkan / ditempelkan.
Saat kedua sangkar saling menempel, posisi tenggeran diusahakan sejajar / segaris. Kalau posisi (tinggi) tenggeran berbeda, sebaiknya diatur dulu sehingga ketinggiannya sama. Sebab, biasanya burung yang sudah saling mengenal akan tidur dengan cara saling berdempetan.

Perjodohan burung
Ilustrasi pengenalan murai batu jantan dan betina dengan posisi tenggeran sejajar.

Nah, berdasarkan pengalaman selama ini, burung yang sebenarnya sudah terlihat akur dan saling berdekatan selama tahap pengenalan / prapenjodohan pun terkadang masih menunjukkan sifat agresifnya saat mulai dicampur dalam satu kandang. Karena itu, selama 1-2 hari setelah disatukan, perlu pemantauan khusus guna mencegah salah satu burung menyerang calon pasangannya.
Apabila salah satu burung tampak bersikap agresif saat sudah disatukan dalam kandang penangkaran, maka yang bisa kita lakukan adalah mengontrol birahinya dengan cara melakukan pengaturan extra fooding (EF).
Jika burung jantan lebih agresif, kita perlu menaikkan porsi EF untuk burung betina. Sebaliknya, kalau betina yang agresif,  porsi EF untuk burung jantan bisa ditambah.
Sifat agresif juga bisa muncul jika burung jantan dalam kondisi siap kawin, sementara betinanya belum karena umur masih terlalu muda. Karena birahi tak tersalur, si jantan akan terus mengejar betina yang ogah diajak kawin.
Karena itu, sebelum menangkar, pastikan kedua calon induk sama-sama sudah melewati umur dewasa kelamin. Lebih baik lagi jika betina berumur minimal 1 tahun dan jantan minimal 1,5 tahun. Keduanya sudah dalam kondisi birahi optimal dan emosi atau temperamen relatif stabil.
Sebagian besar burung kicauan sudah bisa kawin pada umur 7-9 bulan, tapi menunda perkawinan lebih dianjurkan, sampai betina berumur 1 tahun dan jantan 1,5 tahun.
Selain beberapa faktor di atas, ada juga sifat agresif pada calon induk yang disebabkan gangguan hormonal, baik bersifat genetik (keturunan) maupun non-genetik (biasanya pengaruh kualitas pakan). Ini sama seperti manusia di mana perempuan bisa mengalami menstruasi pertama pada umur 10 tahun, 11 tahun, bahkan ada yang sampai 14 tahun. Begitu juga lelaki yang sebagian bisa mengalami mimpi basah pada umur 12 tahun, 13 tahun, dan seterusnya.

Pemberian kedua suplemen ini bisa dilakukan saat burung masih berada dalam sangkar terpisah. Apabila diberikan ketika kedua burung sudah berada dalam satu kandang, wah… bisa berabe, karena penggunaanya bersifat khusus berdasarkan jenis kelamin.
Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda memulai usaha penangkaran burung kicauan, sehingga proses penjodohan bisa berjalan lancar.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Burung pendamping agar anis kembang bersuara ngeplong

Memelihara burung anis kembang yang hanya bersuara ngeriwik saja tentu membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra. Sebab tidak sedikit kicaumania yang mengaku burungnya tak kunjung ngeplong, meski sudah melakukan berbagai upaya perawatan. Apakah Anda sudah menyediakan burung pendamping untuk anis kembang?


Burung anis kembang
Burung anis kembang

Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi anis kembang yang tak kunjung ngeplong, mulai dari pengembunan hingga memberikan pakan berprotein tinggi dalam perawatan hariannya.
Selain itu, ada juga yang menyediakan burung pendamping agar anis kembang bisa segera ngeplong.

Kalau selama ini anis kembang dipelihara tanpa kehadiran burung lain yang sudah rajin bunyi, maka sudah waktunya Anda menyiapkan satu atau beberapa jenis burung pendamping sebagai pemancing agar anis kembang mau mengeluarkan suara kerasnya.
Namun tidak semua jenis burung peliharaan bisa dijadikan sebagaipendamping anis kembang. Hanya burung yang memiliki  karakter suara mirip yang bisa dimanfaatkan untuk memancing anis kembang agar mau mengeluarkan suara ngeplongnya. Beberapa jenis burung yang dimaksud adalah :
  • Anis kembang betina dewasa.
  • Kacer.
  • Sikatan biru putih atau tledekan laut.
  • Tledekan biru atau selendang biru.
  • Blackthroat yang sudah rajin bunyi.
Untuk mendapatkan burung pendamping, tentu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika burung tersebut sudah rajin bunyi atau bukan burung bakalan. Jika Anda belum memiliki rencana membeli burung pendamping, solusinya antara lain:
  • Menitipkan atau menggantang burung di tempat pedagang burung yang sudah Anda kenal baik.
  • Menempelkannya dengan anis kembang lain milik saudara atau rekan yang sudah ngeroll.
  • Menggantang burung di tempat yang tidak jauh dari lokasi berlangsungnya lomba burung.
  • Meminjam burung betina milik rekan untuk tujuan pengecasan.
  • Memutarkan beberapa audio masteran atau suara terapi yang bisa merangsang burung untuk bersuara kencang.
Jangan abaikan perawatan hariannya seperti pengembungan dan pemberian pakan seperti cacing tanah dan kroto agar anis kembang terpancing untuk mengeluarkan suara ngeplongnya ketika ditempel dengan burung pendamping.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Ciri-ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung

Setelah memberi tips tentang ciri-ciri jantan dan betina burung lovebird kacamata dan burung pleci, Om Yulianto Solo Baru juga memberikan tips cara membedakan jantan-betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung dari ciri-ciri fisik dan perilakunya. Hanya saja perlu ditekankan di sini, ciri-ciri ini secara umum bersifat relatif karena didasarkan pada perbandingan antar-burung, meski ada juga yang sifatnya mutlak.Berikut ini adalah ciri-ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung.
Terapi suara alam untuk ciblek macet
Ciblek kebun
Ciri-ciri burung ciblek kebun jantan:
  1. Kuku kaki berwarna cenderung lebih gelap, cenderung hitam
  2. Warna bulu abu-abu cenderung gelap
  3. Kaki relatif lebih besar
  4. Kepala relatif lebih besar
  5. Paruh lebih besar dengan warna hitam paruh atas lebih tegas dan bagian ujung paruh bagian bawah ada warna hitamnya
  6. Di atas mata tidak ada warna putih (alis) tetapi ada rambut hitam panjang, biasanya 2-3 helai
Ciri-ciri burung ciblek kebun betina:
  1. Kuku kaki berwarna putih
  2. Warna bulu abu-abu dengan kecenderungan lebih muda/pudar
  3. Kaki relatif lebih kecil
  4. Kepala cenderung oval – lonjong dan rekatif lebih kecil
  5. Paruh lebih tipis, warna hitam paruh bagian atas cendrerung pudar/coklat dan ujung paruh bagian bawah warna hitamnya samar-samar atau malah tidak ada.
  6. Di atas mata ada bulu putih (alis), dan sewaktu masih anakan kelihatan seperti titik putih di atas mata bagian depan
  7. Tidak ada bulu atau rambut hitam yang tumbuh di kepala.
Ciblek gunung Monster dimahar Rp. 25 juta.
Ciblek gunung
Ciri ciblek gunung (anakan) jantan:
  1. Kaki lebih besar dan berwarna kecoklat-coklatan
  2. Pen dubur lebih menonjol dan berbulu lebih banyak
  3. Warna lebih tajam dan cenderung seperti berminyak
  4. Kepala lebih besar dengan corak lirik-lirik di kepala bagian atas lebih jelas dan tegas
  5. Paruh lebih tebal dan cenderung lebih gelap
  6. Bulu bagian bawah paruh lebih bersih
  7. Warna kuning di bagian dalam tenggorokan lebih tajam
Ciri ciblek gunung betina:
  1. Kaki lebih kecil dan berwarna kemerah-merahan/pink
  2. Pen dubur kecil dengan hanya sedikit bulu
  3. Warna lebih kusam dan tidak berminyak
  4. Kepala dan paruh lebih kecil dan warna corak lirik-lirik di kepala bagian atas kabur/samar-samar
  5. Paruh tipis dan cenderung berwarna lebih muda (coklat dan atau pink)
  6. Bulu bagian bawah paruh terlihat/terkesan agak kotor
  7. Di bagian dalam tenggorokan berwarna kuning muda.
Demikian sobat beberapa ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung. Semoga bermanfaat.

Membuat eggfood dari remahan roti: Pakan bergizi untuk burung kenari

Kenari termasuk burung kicauan yang sangat aktif, sehingga memburuhkan asupan gizi / nutrisi yang cukup. Pemberian pakan bergizi bisa membantu burung menjalankan aktivitas sehari-hari, cukup energi, yang membuatnya rajin bunyi. Di pasaran kita mengenal beberapa jenis pakan kenari,  yang diracik khusus untuk kenari lomba. Anda juga bisa memberikan pakan racikan bergizi tinggi berupa eggfood dari remahan roti.

Membuat cede untuk burung kenari
Pakan bergizi bisa membuat kenari lebih aktif dan rajin berbunyi.

Selama ini,  para penggemar kenari hanya terfokus pada telur rebus atau telur puyuh rebus untuk burung piaraannya. Jika terlalu sering, apalagi diberikan setiap hari, tentu malah kurang baik karena burung berpotensi mengalami obesitas atau kegemukan, yang membuatnya malas bergerak dan malas bunyi. Biasanya, telur puyuh rebus cukup diberikan 1-2 kali dalam seminggu.
Sebagai selingan, Anda bisa memberikan pakan alternatif  berupa eggfood.
Kali ini, kita membahas cara membuat eggfood dari remahan roti, atau eggfood dalam bentuk kering. Pakan ini diyakini bisa membuat kenari menjadi lebih aktif, merangsang burung rajin berbunyi terutama untuk kenari muda atau bakalan, serta mempercepat proses reproduksi dan perawatan anakan.
Bahan yang digunakan:
  • Beberapa butir telur rebus
  • Remah roti atau tepung roti
  • Kacang tanah
  • Biskuit bayi atau sereal
Cara membuat eggfood remahan roti
Salah satu bahan yang digunakan adalah remahan roti. Anda bisa menggunakan remah roti komersial yang biasa dijual dalam bentuk tepung roti, bisa juga membuatnya sendiri dengan cara memanggang potongan kecil roti di dalam oven selama 10 – 15 menit sampai kering. Setelah kering diblender sehingga menjadi tepung roti.
Membaut cede untuk burung
Remahan roti sebagai bahan utama pembuatan eggfood.

Bahan berikutnya adalah telur rebus. Anda bisa menggunakan beberapa butir telur puyuh rebus, atau 2-3 butir telur ayam / bebek.  Telur-telur yang sudah direbus kemudian dihancurkan agar menjadi butiran-butiran kecil.
Membuat cede untuk kenari
Telur dihancurkan menjadi butiran kecil

Campurkan remahan roti yang sebelumnya sudah disiapkan ke dalam adonan telur yang sudah dibuat menjadi bubuk.
Remah roti
Remah roti dicampurkan ke dalam adonan telur

Adapun sisa-sisa cangkang / kerabang telur dikumpulkan, lalu dikeringkan dalam oven selama beberapa menit. Setelah itu didinginkan dan dihancurkan, sehingga menjadi serbuk yang bisa dicampur ke dalam adonan tersebut.
Membuat CEDE untuk burung kenari
Cangkang telur yang sudah menjadi bubuk dimasukkan ke dalam adonan.

Berikutnya menyiapkan kacang tanah dan biskuit bayi atau sereal bayi. Tumbuk kacang tanah hingga menjadi butiran halus. Lakukan hal yang sama pada biskuit bayi yang diremas atau dihancurkan hingga menjadi bubuk. Campurkan keduanya ke dalam adonan telur dan remah roti, lalu aduk hingga merata.
cara membuat cede untuk kenari
Biskuit bayi dihancurkan dan dicampur bersama bahan lain.

Tahap terakhir adalah mengaduk kembali semua bahan pakan hingga tercampur merata. Kini, eggfood bergizi tinggi siap diberikan kepada kenari, sebagai pendamping pakan utamanya yang berupa biji-bijian.
Perlu diperhatikan, pemberian eggfood dari remah roti ini sebaiknya diberikan selama 3 – 4 kali dalam minggu. Setelah rutin mengkonsumi eggfood kering ini, maka dalam waktu beberapa minggu kenari muda / bakalan akan menjadi lebih aktif dan rajin berbunyi, sehingga mempercepat proses ngeplong atau ngerolnya.
Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Tips menjinakkan burung cucak hijau yang giras banget

Memelihara burung bakalan yang masih giras memang bisa membuat stres pemiliknya, he.. he.., terutama ketika burung grabag-grubug di dalam sangkar saat kita mendekatinya untuk memberi pakan. Berbeda dari jenis burung kicauan lain yang relatif mudah dijinakkan, cucak hijau terkadang sulit dibuat jinak dengan cara-cara biasa. Ini namanya cucak hijau giras banget. 

Berikut ini tips menjinakkan burung cucak hijau yang giras banget
Tips menjinakkan cucak hijau yang masih giras
Tips menjinakkan cucak hijau yang giras banget.
Meski sudah banyak panduan mengenai cara menjinakkan burung bakalan, faktanya masih banyak ijomania yang dibuat repot dengan piaraannya yang masih giras, dan terlihat tetap liar.
Tidak seperti jenis burung kicauan lainnya, karakter cucak hijau memang cukup unik. Burung ini cenderung “kumaha aing” atau “bagaimana saya saja“.
Ketika membeli cucak hijau bakalan, umumnya mereka tak terpengaruh oleh proses penjinakan yang kita lakukan sesuai dengan cara-cara biasa. Dalam berbagai kasus, banyak ijomania yang sudah berminggu-minggu melakukan penjinakan, namun cucak hijau masih tetap tidak mau jinak.
Semoga tips menjinakkan burung cucak hijau berikut ini bisa menjadi solusi bagi Anda yang masih dipusingkan dengan girasnya burung piaraaan di rumah.

Biarkan burung beradaptasi
Ketika baru saja membeli cucak hijau bakalan dari pasar burung, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyimpan burung tersebut dalam kandang yang bersih dan menggantungnya di tempat sepi, tanpa ada burung lain. Lakukan hal ini selama beberapa hari.
Proses adaptasi ini bertujuan agar cucak hijau terbiasa dengan kondisi sangkar serta segala aksesoris di dalam sangkar, seperti tempat makan, tempat minum, dan tenggeran. Hal ini bisa mencegah burung berperilaku di luar kontrol, seperti ketakutan lalu menabrak-nabrak jeruji sangkar yang bisa melukai bagian tubuhnya.
Simpan burung di tempat tenang. Jika tidak memiliki lokasi untuk menggantung burung, kerodong saja burung selama beberapa hari. Kerodong hanya dibuka saat kita mengganti pakan atau membersihkan sangkar.

Berikan pelajaran kepada burung
Ketika burung sedang dilatih untuk jinak, tetapi ia tetap merasa kenyang dengan pakan berlimpah, tentu hal itu tak akan efektif. Banyak burung yang masih tetap giras meski sudah menjalani latihan penjinakan selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Salah satu cara yang cukup efektif adalah memberikan pelajaran kepada burung bahwa kita bukanlah musuh yang harus ditakutinya, melainkan kawan dan pelayan yang akan memberikannya banyak makanan lezat untuknya.
Sebagian besar burung cucak hijau memiliki ritme waktu tersendiri. Mereka tahu kapan ingin istirahat, dan kapan ingin melakukan aktivitasnya. Hal tersebut jarang ditemukan pada spesies burung lain yang biasanya tetap aktif di malam hari jika lampu ruangan masih menyala.
Pada cucak hijau, meski lampu ruangan masih menyala, mereka rata-rata bersifat “pelor” atau nempel-molor, ketika kita mau memasukkannya ke dalam rumah pada sore hingga malam harinya.
Melihat perilakunya yang demikian, kita bisa memberinya pelajaran dengan cara mencabut tempat pakan, minum, dan buah-buahan setiap kali burung dibawa masuk ke rumah untuk beristirahat.
Dengan cara seperti ini, maka ketika bangun pada pagi harinya, cucak hijau tidak akan mendapati pakannya. Nah, saat itulah kita bisa mulai memberikan latihan penjinakan. Kita melatihnya saat burung merasa lapar.
Melatih jinak dengan membiarkan burung merasa lapar
Melatih jinak cucak hijau dengan membiarkannya merasa lapar.
Pagi harinya, ketika merasa lapar, biasanya burung akan terlihat sering berada di dasar sangkar untuk mencari pakan. Pada saat itulah kita sodorkan buah pisang dengan tangan kita di luar sangkarnya.
Untuk pertama kalinya, burung mungkin masih merasa ketakutan. Tetapi jika Anda gigih, cucak hijau akan mulai berani mendekati dan mematuk pakan kesukaannya itu.
Jika burung sudah berani mengambil pakan, selanjutnya sodorkan buah pisang atau serangga dengan posisi tangan kita masuk ke dalam sangkar(melalui pintu).
Apabila cucak hijau masih berani mengambil pakan, kita bisa melakukan sesuatu yang lain, yaitu menyodorkan  tangan kosong. Nah, kalau dia berani mematuki tangan kita, itu artinya cucak hijau sudah tidak takut lagi dengan kita. Dia akan menganggap kita sebagai pelayan (wah, sialan, he.. he..) sekaligus kawan.
Menjelang siang hari, pakan dan air minum bisa dipasang, dan dicabut lagi ketika burung siap untuk beristirahat. Dengan melakukan hal rutin seperti ini, maka cucak hijau yang semula giras banget pun akan cepat menjadi jinak.

Biasakan dalam keramaian
Setelah cucak hijau memiliki keberanian mengambil pakan secara langsung dari tangan kita, sekarang waktunya untuk mengenalkan burung pada lingkungan manusia. Cara yang lazim dilakukan banyak orang adalah menggantung burung di tempat ramai.
Hal tersebut bertujuan meningkatkan daya adaptasinya agar mengenali lingkungan sekitar, juga membiasakan burung menghadapi lalu-lalang manusia. Dengan begitu, karakter dan mentalnya mulai terbentuk, sehingga bisa mempercepat kondisi rajin berbunyi.
Itulah beberapa tips singkat seputar cara menjinakkan burung cucak hijau yang masih giras dan sulit dijinakkan.
Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Perawatan kacer bakalan agar rajin bunyi


Kacer sama dengan jenis anis yang menyukai cacing tanah
Sebagaimana anis, kacer juga menyukai cacing tanah.

Beberapa penggemar kacer, khususnya pemula, sering menanyakan perawatan burungnya yang masih bakalan agar rajin bunyi. Mereka sangat ingin agar momongan barunya, yang belum dewasa, bisa cepat bunyi dan kelak menjadi rajin bunyi. Yang perlu ditekankan di sini adalah tidak ada yang instan dalam menjadikan kacer Anda rajin bunyi, kecuali dengan cara take-over alias membeli burung yang sudah beberapa kali jawara di arena lomba. Konsekuensinya, harganya mahal banget. Kalau Anda telaten dan sabar dalam merawat, kemudian burung nantinya gacor, tentu ini menjadi kepuasan batin tersendiri. Dan, inilah makna sejati dalam menjalankan hobi burung kicauan.
 Merawat kacer bakalan, yang berasal dari tangkapan hutan, diperlukan tahap prakondisi terlebih dulu sebelum Anda berharap burung nantinya rajin bunyi. Sebagaimana perawatan jenis burung bakalan lainnya, tahap prakondisi ini terdiri atas proses penjinakan dan melatih burung agar mau makan voer.
Proses penjinakan kacer bakalan
Penjinakan kacer bakalan, khususnya yang berasal dari tangkapan hutan, harus dilakukan kalau  Anda tak ingin repot dalam rawatan hariannya. Adapun untuk anakan atau kacer muda yang Anda peroleh dari penangkar tak memerlukan proses penjinakan, kecuali proses adaptasi lingkungan, dari lingkungan lama (farm atau tempat penangkaran) ke lingkungan di sekitar rumah Anda.
Burung yang belum jinak bukan hanya akan merepotkan dalam perawatan harian, tetapi juga tidak memungkinkan untuk dilombakan. Jadi, penjinakan kacer bakalan tangkapan hutan menjadi sebuah keniscayaan,
Kacer yang masih giras / belum jinak, tidak akan bisa sepenuhnya mengeluarkan suaranya secara maksimal dalam lingkungan rumah. Sebab burung akan takut melihat orang, termasuk Anda selaku pemiliknya. Ia juga akan stres saat mendengar suara-suara di sekitar rumah, yang asing dalam pendengarannya, seperti bunyi mesin cuci, suara televisi yang terlalu keras, kucing yang menerornya, dan sebagainya.

Melatih burung makan voer
Langkah ini juga menjadi kelaziman dalam pemeliharaan kacer bakalan hasil tangkapan hutan. Tetapi tidak perlu dilakukan apabila Anda memperoleh burung dari hasil penangkaran.
Sebagian kicaumania memang lebih senang membeli kacer bakalan, karena harganya lebih murah daripada burung yang sudah jadi. Jika burung dalam kondisi belum ngevoer, harga biasanya lebih miring daripada burung yang sudah terbiasa makan voer. Konsekuensinya, Anda harus melatihnya agar mau makan voer.
Untuk melatih kacer bakalan agar mau makan voer, beberapa tips  yang bersifat umum untuk berbagai  jenis burung kicauan. Coba cek beberapa arsip artikel di bawah ini :
1. Melatih burung makan voer dengan UH dan voer warna merah.
2. Metode satu minggu untuk burung mau makan voer.
3. Melatih burung makan voer.
Tahapan membuat burung rajin berkicau
Jika kedua tahapan di atas sudah dilalui, proses berikutnya tentu menjadi  lebih mudah, yaitu bagaimana membuat burung menjadi rajin berkicau. Dalam tahapan ini, salah satu aspek terpenting adalah memberikan pakan tambahan atau extra fooding (EF) yang mempunyai kandungan protein tinggi.
Untuk kacer, bahan pakan dari EF yang kaya protein antara lain jangkrik, belalang, dan cacing tanah. Pakan berprotein tinggi tersebut bisa diberikan dalam jumlah cukup banyak, namun bisa dilakukan variasi menu, serta disesuaikan pula dengan karakter burung masing-masing.
Sbagai contoh, jika Anda memberikan jangkrik dalam jumlah banyak, maka pemberian cacing cukup setengah atau seperempat porsi jangkrik. Sebaliknya, jika cacing tanah diberikan dalam jumlah cukup banyak, maka jangkrik cukup setengah atau seperempat porsi cacing tanah. Sebab kedua bahan pakan hidup ini sama-sama kaya protein. Jika keduanya diberikan dalam porsi banyak dalam waktu bersamaan, maka burung mudah sekali mengalami over birahi (OB).
Sebenarnya kroto pun bisa diberikan kepada kacer. Namun silakan dipertimbangkan baik dan buruknya untuk kacer Anda. Sebab kroto bisa memberi efek berbeda pada individu kacer yang berbeda pula.
Bukan berarti kacer tidak perlu diberi kroto dalam rawatan hariannya. Om Khadafi pun memberikan 2 sendok kroto setiap hari kepada kacer Rincong miliknya. Tetapi, sekali lagi, semua itu berdasarkan treatment dari masing-masing pemilik setelah mengenali karakter burungnya.
Oh ya, ketika memberikan EF seperti jangkrik atau cacing tanah, Anda pun bisa memanfaatkan momen ini untuk melakukan pe-de-ka-te terhadap kacer bakalan yang baru dibeli. Maksudnya, Anda bisa memberikannya melalui media tertentu, misalnya lidi, atau kalau perlu langsung dari jari-jari Anda yang masuk ke dalam sangkar burung.
Cara ini akan membuat kacer menjadi jinak lalat, bahkan lama-lama bisa menciptakan hubungan batin tersendiri. Kalau kita amati video di youtube, banyak sekali burung kicauan yang memiliki hubungan batin yang dekat dengan pemiliknya, mulai dari murai batu, kacer, branjangan, gelatik wingko, dan sebagainya. Jadi, bukan hanya burung paruh bengkok saja yang bisa menjalin hubungan batin dengan pemilik atau perawatnya.
Perlukah suplemen untuk menggacorkan burung?
Pertanyaan ini kerap dilontarkan beberapa kicaumania dalam beberapa forum. Mereka sering menyangsikan kemanfaatan vitamin dan mineral untuk burung kicauan, dengan alasan yang sangat konyol: “Bukankah burung di alam liar tidak pernah mendapat vitamin dan mineral, tetapi toh tetap bisa berkicau”.
Saya menyebutnya sebagai alasan konyol, karena burung di alam liar secara naluriah sudah memiliki preferensi terhadap bahan pakan tertentu yang mengandung vitamin, mineral, protein, energi metabolisme, dan zat gizi (nutrisi lainnya). Kalau Anda lihat ayam di jalan-jalan kampung sering mematuki tanah, itu merupakan contoh bagaimana unggas punya naluri untuk mencukupi kebutuhan mineral yang diperolehnya dengan mengorek-ngorek remahan tanah, dan sebagian akan dimakannya.
Tetapi ketika burung dipelihara dalam sangkar / kandang, sifat naluriah itu jelas tidak ada. Ia sangat tergantung dari pakan yang Anda berikan. Ketika bahan pakan tidak mencukupi semua kebutuhan nutrisinya, khususnya vitamin dan mineral, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dan ikhlas menjalani takdirnya di tangan sang pemilik.
Satu-satunya cara untuk memastikan burung kecukupan vitamin dan mineral (dalam pengertian seluruh jenis vitamin dan mineral yang paling esensial) ya dengan memberikan suplemen, atau asupan di luar pakan utama (voer) dan pakan tambahan seperti jangkrik, cacing tanah, belalang, dan sebagainya.
Kalau Anda baca artikel di sejumlah tabloid burung , sebagian besar burung lomba pun rutin diberi multivitamin dan/atau multimineral sebagai bagian integral dari perawatan hariannya. 
Kecukupan vitamin, khususnya vitamin C, sangat menentukan kondisi burung apakah fit atau tidak. Sedangkan vutamin lain dan juga mineral umumnya untuk menunjuang kesempurnaan metabolisme tubuh, serta menghindari gangguan kesehatan / penyakit tertentu. Jika burung dalam kondisi fit, maka potensi stres bisa ditekan, dan pada saatnya nanti dia akan rajin berbunyi.

Aktivitas mandi, jemur, dan rawatan lainnya

Jika aspek pakan sudah dijalankan dengan baik, tugas berikutnya adalah menjalankan perawatan rutin lainnya seperti mandi dan jemur. Kacer sebaiknya lebih sering dimandikan. Selain bisa membuat tubuhnya selalu segar, mandi secara  rutin bisa membuat burung lebih cepat berbunyi.
Berapa kali kacer sebaiknya mandi setiap hari? Jawabannya relatif. Praktik yang dilakukan pemilik kacer pun bervariasi, ada yang satu kali, dua kali, bahkan sampai tiga kali. Dengan pertimbangan bisa membuat burung selalu dalam kondisi segar, dimenyarankan aktivitas mandi pada kacer bisa dilakukan 2-3 kali dalam sehari.
Adapun durasi penjemurannya bisa disesuaikan dengan kebiasaan dan kondisi burung. Lazimnya, kacer bakalan dijemur selama 2-3 jam sehari. Tetapi jika kelak sudah gacor, durasi penjemuran sebaiknya dibatasi cukup 2 jam saja. Ini untuk mencegah panas berlebihan yang bisa membuat suara kicauannya terganggu.
Hal penting lainnya adalah pemasteran. Sarena burung yang memiliki banyak suara isian cenderung lebih cepat berkicau atau ngeplong. Isian yang bagus untuk kacer juga relatif, tergantung selera. Jika Anda ingin menurunkan burung ke arena lomba, tren isian untuk kacer saat ini adalah cililin, lovebird, cucak jenggot, dan burung gereja tarung.
Itulah beberapa hal penting mengenai perawatan kacer bakalan agar burung menjadi lebih cepat berkicau dan rajin bunyi.
Semoga bermanfaat.