Jumat, 23 Januari 2015

Empat hal ini bisa membuat branjangan rajin bunyi dan cepat ngeplong

Keberhasilan dalam merawat burung branjangan menjadi tantangan tersendiri bagi para pemiliknya. Banyak lho BR mania yang galau, burung tak kunjung mengeluarkan suara kicauannya, meski sudah lama dipelihara. Bahkan tidak sedikit yang berkata, karakter branjangan sulit ditebak, sehingga kita harus mengetahui apa yang bisa membuatnya terpancing untuk bunyi. 


Berikut ini empat hal yang bisa membuat branjangan rajin bunyi dan cepat ngeplong.
1. Kurangi jangkrik, tambah ulat hongkong
Selama ini, masih banyak kicaumania yang menganggap ulat hongkong bisa menyebabkan katarak pada burung, dan karena alasan itulah banyak orang yang sedikit sekali memberikan pakan hidup ini kepada branjangannya.
Apabila diperhatikan, banyak senior BR mania yang memberikan ulat hongkong putih dalam jumlah lebih banyak daripada jangkrik. Terlebih pada branjangan yang selama ini jarang bunyi atau cenderung ngeriwik. Pemberian ulat hongkong berwarna putih diyakini bisa merangsang branjangan untuk lebih rajin bunyi dan mempercepat kondisi ngeplong.
Kalau saat ini Anda mempunyai burung branjangan yang susah bunyi, atau hanya ngeriwik saja, tidak ada salahnya untuk mencoba perawatan yang sering dilakukan para senior, yaitu:
  • Memberi jangkrik cukup 1 ekor saja pada pagi dan sore hari.
  • Memberi ulat hongkong sebanyak 3 – 5 ekor pada pagi dan sore hari .
  • Sebagai tambahan, Anda bisa memberi kroto sebanyak 1 sendok teh kecil setiap pagi.
Semoga bermanfaat


Sumber : Om Kicau

Mengatasi burung anis merah yang susah ngeplong

Kalau sudah dirawat cukup lama, tetapi anis merah hanya ngeriwik saja dan ogah mengeluarkan suara ngeplongnya, tentu membuat galau pemiliknya. Sebagian memvonis burungnya betina, lantas dijualnya dengan harga murah. Tapi di tangan pemilik baru, ternyata anis merah itu justru rajin bersuara ngeplong bahkan teler.

Burung anis merah yang bisa tampl maksimal jika dberikan perawatan yang tepat 

 Burung anis merah bisa tampil maksimal jika dirawat secara tepat.

Anis merah memiliki karakter yang agak berbeda dari burung kicauan lainnya. Jika jenis burung lainnya mudah terpancing untuk bunyi, tidak demikian dengan anis merah. Bahkan ada anggapan bahwa memelihara anis merah memerlukan kesabaran tingkat tinggi.
Namun bagi yang sudah lama memelihara aneka jenis burung kicauan, merawat anis merah tidak jauh berbeda dari jenis kicauan lainnya. Hanya saja diperlukan improvisasi di sana-sini. Untuk
Berikut ini beberapa tips mengatasi burung anis merah yang susah ngeplong dan cenderung ngeriwik saja.

1. Maksimalkan pakan harian
Pakan tambahan / extra fooding (EF) diperlukan untuk menjaga kondisi dan mendukung aktivitas harian semua jenis burung peliharaan, termasuk anis merah. Sayangnya, dalam perawatan hariannya, terkadang anis merah tidak mendapatkan pakan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya.
Jika burung tidak mau bersuara ngeplong, cenderung ngeriwik saja, berarti pemberian EF harus lebih ditingkatkan, baik porsi maupun jenisnya.
Ada berbagai jenis EF yang bisa diberikan agar anis merah rajin berbunyi dan terpancing untuk bersuara ngeplong, yaitu cacing tanah, larva serangga, ulat hongkong, jangkrik, kroto, dan buah-buahan seperti apel merah, salak, sawo, pepaya, dan pisang kepok.

2. Berikan suasana tenang
Jika Anda menggantung sangkar di tempat biasa, dan selama itu pula anis merah hanya ngeriwik, itu berarti sudah waktunya memindah sangkar ke tempat lain yang lebih nyaman. Ini bisa membantu / memancing anis merah untuk mengeluarkan suara ngeplongnya.
Alternatifnya, jangan mengedorong burung pada malam hari. Jika selama ini burung ogah ngeplong lantaran merasa kurang nyaman pada siang hari, maka pada malam hari dan dalam kondisi tanpa kerodong itulah burung biasanya mau mengeluarkan suara ngeplongnya. Begitu juga yang terjadi ketika jika Anda rutin memberikan pengembunan di pagi hari.

3. Pancing birahinya dengan burung sejenis 
Anda juga bisa mengajak teman-teman kicaumania yang memiliki anis merah baik yang masih ngeriwik atau sudah ngeplong untuk berkumpul dan mengecas jagoan masing-masing.
Biasanya, dalam kondisi tersebut, ada satu atau beberapa burung yang terpancing mengeluarkan suara kicauannya dengan kencang. Bahkan ada juga yang langsung teler.

Semoga bermanfaat.


Sumber : Om Kicau

Merawat murai batu saat dorong ekor

Salah satu ciri khas burung murai batu adalah ekornya yang panjang. Kelenturan dan panjang ekor murai batu bisa bervariasi, tergantung faktor genetik dan rasnya. Setelah rampung masa mabungnya, murai batu akan mengalami proses dorong ekor. Jika perawatannya tidak tepat, hal ini bisa mempengaruhi penampilan bulu ekornya.
Murai batu yang sedang dalam proses dorong ekor 
Murai batu sedang dalam proses dorong ekor

Misalnya, bulu ekor mudah rusak, nyerit, bahkan tidak sepanjang sebelumnya. Karena itu, perlu diperhatikan cara merawat murai batu saat dorong ekor.
Seperti diketahui, setelah murai merampungkan masa mabungnya, bagian terakhir yang harus diselesaikan adalah ekornya. Ekor ini secara bertahap akan bertambah panjang, hingga mencapai batas tertentu sesuai dengan kualitas genetik maupun kualitas perawatan selama masa mabung.
Pada saat dorong ekor, perawatan yang harus diterapkan sebenarnya masih sama seperti perawatan masa mabung. Sayangnya, masih banyak muraimania yang tidak menyadari hal ini, dan langsung memberikan perawatan harian biasa saat murai dalam proses dorong ekor.
Akibatnya bisa ditebak: bulu ekor  mudah rusak, keriting, bercabang, dan nyerit. Bahkan panjang ekornya tak akan seperti biasanya. Karena itu, agar pertumbuhan bulu ekor murai lebih maksimal, dengan penampilan lebih cantik, tips berikut ini bisa diterapkan untuk burung kesayangan Anda.
Perawatan murai batu saat dorong ekor
Banyak muraimania yang memberikan pakan tambahan atau EF ketika murai batu sedang dorong ekor. Alasannya, EF bisa mempercepat tumbuhnya bulu-bulu ekor secara maksimal.
Tetapi perawatan itu hanya bisa dilakukan jika Anda telah terbiasa, atau Anda punya waktu cukup dalam merawat burung yang hanya mengkonsumsi EF saja.
Berikut ini bentuk perawatan yang biasa Anda lakukan saat murai batu dorong ekor:
  • Berikan 4-5 ekor jangkrik pada pagi dan sore hari.
  • Berikan kroto segar sebanyak satu cepuk, setiap 2 – 3 kali dalam seminggu. Jika Anda memiliki kroto cukup berlimpah, boleh saja diberikan setiap pagi hari.
  • Mandi sebaiknya tidak dilakukan dalam karamba mandi, tetapi sediakan bak mandi dalam sangkar hariannya.
  • Penjemuran sebaiknya tidak dilakukan secara rutin, cukup beberapa kali seminggu, dan dilakukan hanya pada waktu pagi (setelah matahati terbit) dengan durasi tidak lebih dari 15 menit.
  • Selama perawatan, murai batu disimpan di tempat sejuk, nyaman, dan tidak terganggu burung sejenis maupun burung fighter lainnya. Alternatif lain, Anda bisa memberikan full kerodong.
  • Bersihkan kotoran murai setiap pagi dan sore hari, untuk menjaga kesehatan bulu dan terhindar dari serangan tungau / parasit.
  • Lakukan pemasteran dengan burung atau suara masteran yang tepat.
Itulah beberapa tips merawat murai batu saat dorong ekor. Melalui perawatan secara tepat, bulu ekor akan tumbuh lebih kuat, lebih lentur, berkilauan, tidak mudah rusak, dan panjangnya bisa maksimal.
Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Kamis, 18 Desember 2014

Cabut voer sebelum tidur agar burung bakalan rajin bunyi

Meski harga burung bakalan tidak jauh berbeda dari burung dewasa, banyak kicaumania memilih untuk merawat burung bakalan. Ya, burung bakalan memang punya daya tarik tersendiri. Sebagian kicaumania menganggapnya sebagai tantangan untuk menjadikannya sebagai burung berkualitas. 

burung bakalan di pasar burug
Memilih burung di pasar burung | Foto wikimapia.org

Burung bakalan yang ada di pasar burung umumnya terbagi menjadi dua kategori:
1. Burung bakalan yang baru didapatkan dari pengepul atau hasil tangkapan hutan.
2. Burung bakalan yang sudah lama dipelihara (biasanya pemilik lama tukar tambah dengan burung lain).

Untuk bisa membedakan mana burung bakalan yang baru dan burung bakalan yang sudah lama, tentu tidak sulit. Burung bakalan yang sudah lama biasanya disimpan dalam sangkar terpisah, adapun burung bakalan yang masih baru umumnya ditempatkan dalam kandang ombyokan.
Selain itu, bentuk kotoran dan pakan yang dikonsumsinya pun berbeda. Burung yang sudah lama dipelihara tentu sudah terlatih makan voer sehingga bentuk kotorannya menjadi lebih padat. Adapun  burung yang masih baru umumnya belum mengenal voer, atau sedang dilatih makan voer, sehingga kotorannya masih berbentuk cairan bercampur warna keputihan.

kotoran-burung
Bandingkan kotoran burung bakalan yang belum makan voer (kiri) dan sudah makan voer.

Karena itu, jika Anda termasuk orang sibuk dan tidak mau repot dengan melatih makan voer, sebaiknya memilih burung bakalan rawatan lama. Sebab perawatan lanjutannya pun cenderung lebih mudah, karena tugas kita tinggal melatihnya agar lebih rajin berbunyi.
Dalam tips kali ini, kita akan membahas metode cabut voer sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar ketika burung bangun di pagi hari, pakan yang pertama dicerna tubuhnya adalah protein hewani (serangga atau kroto), sehingga secara perlahan bisa membentuk karakter dan mentalnya sebagaimana di alam liar.
Selain itu, cabut voer sebelum tidur juga bisa menjadi salah satu metode penjinakan burung yang cukup efektif dan mampu mencegah burung dari kegemukan yang kerap membuat burung malas beraktivitas dan malas berkicau.
Metode cabut voer sebelum tidur dilakukan dengan cara mengangkat wadah voer ketika hari sudah mulai gelap. Untuk itu diperlukan kebiasaan yang teratur setiap malamnya. Misalnya sejak pukul 18.30, atau bisa juga 19.00, wadah voerd dicabut dan burung dibiarkan beristirahat dengan mematikan lampu ruangannya.
Untuk burung bakalan, sebaiknya dibiasakan tidak terlalu beraktivitas pada malam hari. Misalnya lampu ruangan dibiarkan terang agar burung mau berkicau. Sebab hal itu dapat mempengaruhi kondisi burung yang menyebabkan dia terbiasa bunyi jika suasana sedang sepi.
Pada pagi harinya, sekitar pukul 05.00 – 05.30, barulah lampu ruangan dinyalakan. Kemudian setelah pukul 05.30, burung dikeluarkan untuk diembunkan.
Pada saat pengembunan, burung hanya diberi pakan kroto sebanyak satu sendok teh, agar ia bisa mencerna protein hewani sebagai pakan pertamanya sebelum beraktivitas. Sebab kroto merupakan pakan berprotein tinggi, juga sumber energi yang baik bagi burung melakukan aktivitas hariannya beberapa jam ke depan.

Note: Jika Anda sedang tidak memiliki kroto, burung bisa diberi jangkrik atau ulat hongkong sebagai sumber protein hewaninya.
Setelah burung dimandikan, atau sekitar pukul 06.30 – 07.00, barulah pakan voer bisa diberikan. Untuk selanjutnya, Anda bisa menjalankan perawatan harian seperti biasanya.
Kalau perawatan ini dilakukan secara rutin dan teratur setiap hari, maka dalam beberapa hari burung bakalan menjadi lebih rajin berbunyi. Pada burung bakalan yang sebelumnya hanya ngeriwik saja, mereka akan cepat terpancing untuk ngeplong atau berlatih ngeplong jika umurnya masih muda.

Semoga bermanfaat.

Mengurangi perilaku agresif burung ketika hendak dijodohkan

Salah satu kendala yang sering dialami para penangkar adalah burung jantan dan betina tidak mau berjodoh. Umumnya, hal itu ditandai dengan perilaku salah satu burung yang terlampau agresif, sering menyerang calon pasangannya. Karena itu, sebelum mulai menangkar burung, ada baiknya Anda cermati beberapa hal berikut ini, yang bisa membantu mengurangi perilaku agresif burung ketika hendak dijodohkan.

burung teritorial
Sifat agresif burung tercermin dalam sifat teritorialnya.

Penjodohan burung dilakukan ketika kita memiliki burung jantan dan betina yang belum saling mengenal. Ketika burung hendak dijodohkan, terkadang muncul berbagai permasalahan yang bisa menghambat rencana kita dalam menangkar atau beternak burung.

Kasus yang sering terjadi adalah salah satu burung terlalu agresif dan menyerang calon pasangannya. Bukan itu saja, sering terjadi pula burung yang begitu agresifnya sampai calon pasangannya mati (terbanyak pada murai batu). Korbannya bisa burung betina, tetapi bisa juga burung jantan.
Di sinilah sebenarnya trik-trik penjodohan harus diterapkan, antara lain mengatur kondisi birahi dari burung jantan dan betina yang mau dijodohkan.

Burung-burung kicauan seperti ciblek, murai batu, dan kacer memiliki sifat teritorial. Sifat itu akan ditunjukkan terhadap burung lain yang ada di dekatnya, baik jantan dan betina. Sebab, ia akan menganggap sangkar dan aksesoris sangkar lainnya (wadah pakan, wadah minum, tenggeran) sebagai wilayah kekuasaannya yang harus dijaganya.

Pakan maupun air minum di dalam wadah masing-masing pun akan dipertahankannya, agar jangan sampai ada burung lain yang mengambilnya. Tanpa melalui proses perkenalan (prapenjodohan), burung akan menunjukkan sifat terirotialnya dan akan mencoba mengusirnya, bahkan bisa berlaku agresif dengan menyerangnya. Sifat teritorial akan hilang ketika burung sudah benar-benar berjodoh.

Burung agresif
Ilustrasi: Sifat agresif burung bisa muncul ketika hendak dijodohkan.

Karena itu, ketika kita hendak menjodohkan burung, wajib melalui tahapan pengenalan dulu. Dalam hal ini, burung jantan dan betina jangan langsung dipertemukan, tetapi dipisahkan dulu dalam jarak cukup jauh atau disimpan di lokasi yang tidak terlihat oleh masing-masing burung selama beberapa hari (istilahnya “dipingit”, he.. he.. he.. ).

Dengan demikian, masing-masing burung hanya bisa mendengar suaranya. Metode ini bisa meredam emosi dan sifat agresif burung, sekaligus membuat burung jantan dan betina penasaran.
Beberapa hari kemudian, barulah kedua burung didekatkan. Proses pendekatan ini dilakukan dengan menggantang sangkar burung jantan dan sangkar burung betina dalam jarak 1 meter. Jika jantan atau betina mulai menunjukkan rasa ketertarikan masing-masing, barulah sangkarnya didempetkan / ditempelkan.
Saat kedua sangkar saling menempel, posisi tenggeran diusahakan sejajar / segaris. Kalau posisi (tinggi) tenggeran berbeda, sebaiknya diatur dulu sehingga ketinggiannya sama. Sebab, biasanya burung yang sudah saling mengenal akan tidur dengan cara saling berdempetan.

Perjodohan burung
Ilustrasi pengenalan murai batu jantan dan betina dengan posisi tenggeran sejajar.

Nah, berdasarkan pengalaman selama ini, burung yang sebenarnya sudah terlihat akur dan saling berdekatan selama tahap pengenalan / prapenjodohan pun terkadang masih menunjukkan sifat agresifnya saat mulai dicampur dalam satu kandang. Karena itu, selama 1-2 hari setelah disatukan, perlu pemantauan khusus guna mencegah salah satu burung menyerang calon pasangannya.
Apabila salah satu burung tampak bersikap agresif saat sudah disatukan dalam kandang penangkaran, maka yang bisa kita lakukan adalah mengontrol birahinya dengan cara melakukan pengaturan extra fooding (EF).
Jika burung jantan lebih agresif, kita perlu menaikkan porsi EF untuk burung betina. Sebaliknya, kalau betina yang agresif,  porsi EF untuk burung jantan bisa ditambah.
Sifat agresif juga bisa muncul jika burung jantan dalam kondisi siap kawin, sementara betinanya belum karena umur masih terlalu muda. Karena birahi tak tersalur, si jantan akan terus mengejar betina yang ogah diajak kawin.
Karena itu, sebelum menangkar, pastikan kedua calon induk sama-sama sudah melewati umur dewasa kelamin. Lebih baik lagi jika betina berumur minimal 1 tahun dan jantan minimal 1,5 tahun. Keduanya sudah dalam kondisi birahi optimal dan emosi atau temperamen relatif stabil.
Sebagian besar burung kicauan sudah bisa kawin pada umur 7-9 bulan, tapi menunda perkawinan lebih dianjurkan, sampai betina berumur 1 tahun dan jantan 1,5 tahun.
Selain beberapa faktor di atas, ada juga sifat agresif pada calon induk yang disebabkan gangguan hormonal, baik bersifat genetik (keturunan) maupun non-genetik (biasanya pengaruh kualitas pakan). Ini sama seperti manusia di mana perempuan bisa mengalami menstruasi pertama pada umur 10 tahun, 11 tahun, bahkan ada yang sampai 14 tahun. Begitu juga lelaki yang sebagian bisa mengalami mimpi basah pada umur 12 tahun, 13 tahun, dan seterusnya.

Pemberian kedua suplemen ini bisa dilakukan saat burung masih berada dalam sangkar terpisah. Apabila diberikan ketika kedua burung sudah berada dalam satu kandang, wah… bisa berabe, karena penggunaanya bersifat khusus berdasarkan jenis kelamin.
Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda memulai usaha penangkaran burung kicauan, sehingga proses penjodohan bisa berjalan lancar.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Burung pendamping agar anis kembang bersuara ngeplong

Memelihara burung anis kembang yang hanya bersuara ngeriwik saja tentu membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra. Sebab tidak sedikit kicaumania yang mengaku burungnya tak kunjung ngeplong, meski sudah melakukan berbagai upaya perawatan. Apakah Anda sudah menyediakan burung pendamping untuk anis kembang?


Burung anis kembang
Burung anis kembang

Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi anis kembang yang tak kunjung ngeplong, mulai dari pengembunan hingga memberikan pakan berprotein tinggi dalam perawatan hariannya.
Selain itu, ada juga yang menyediakan burung pendamping agar anis kembang bisa segera ngeplong.

Kalau selama ini anis kembang dipelihara tanpa kehadiran burung lain yang sudah rajin bunyi, maka sudah waktunya Anda menyiapkan satu atau beberapa jenis burung pendamping sebagai pemancing agar anis kembang mau mengeluarkan suara kerasnya.
Namun tidak semua jenis burung peliharaan bisa dijadikan sebagaipendamping anis kembang. Hanya burung yang memiliki  karakter suara mirip yang bisa dimanfaatkan untuk memancing anis kembang agar mau mengeluarkan suara ngeplongnya. Beberapa jenis burung yang dimaksud adalah :
  • Anis kembang betina dewasa.
  • Kacer.
  • Sikatan biru putih atau tledekan laut.
  • Tledekan biru atau selendang biru.
  • Blackthroat yang sudah rajin bunyi.
Untuk mendapatkan burung pendamping, tentu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika burung tersebut sudah rajin bunyi atau bukan burung bakalan. Jika Anda belum memiliki rencana membeli burung pendamping, solusinya antara lain:
  • Menitipkan atau menggantang burung di tempat pedagang burung yang sudah Anda kenal baik.
  • Menempelkannya dengan anis kembang lain milik saudara atau rekan yang sudah ngeroll.
  • Menggantang burung di tempat yang tidak jauh dari lokasi berlangsungnya lomba burung.
  • Meminjam burung betina milik rekan untuk tujuan pengecasan.
  • Memutarkan beberapa audio masteran atau suara terapi yang bisa merangsang burung untuk bersuara kencang.
Jangan abaikan perawatan hariannya seperti pengembungan dan pemberian pakan seperti cacing tanah dan kroto agar anis kembang terpancing untuk mengeluarkan suara ngeplongnya ketika ditempel dengan burung pendamping.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Om Kicau

Ciri-ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung

Setelah memberi tips tentang ciri-ciri jantan dan betina burung lovebird kacamata dan burung pleci, Om Yulianto Solo Baru juga memberikan tips cara membedakan jantan-betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung dari ciri-ciri fisik dan perilakunya. Hanya saja perlu ditekankan di sini, ciri-ciri ini secara umum bersifat relatif karena didasarkan pada perbandingan antar-burung, meski ada juga yang sifatnya mutlak.Berikut ini adalah ciri-ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung.
Terapi suara alam untuk ciblek macet
Ciblek kebun
Ciri-ciri burung ciblek kebun jantan:
  1. Kuku kaki berwarna cenderung lebih gelap, cenderung hitam
  2. Warna bulu abu-abu cenderung gelap
  3. Kaki relatif lebih besar
  4. Kepala relatif lebih besar
  5. Paruh lebih besar dengan warna hitam paruh atas lebih tegas dan bagian ujung paruh bagian bawah ada warna hitamnya
  6. Di atas mata tidak ada warna putih (alis) tetapi ada rambut hitam panjang, biasanya 2-3 helai
Ciri-ciri burung ciblek kebun betina:
  1. Kuku kaki berwarna putih
  2. Warna bulu abu-abu dengan kecenderungan lebih muda/pudar
  3. Kaki relatif lebih kecil
  4. Kepala cenderung oval – lonjong dan rekatif lebih kecil
  5. Paruh lebih tipis, warna hitam paruh bagian atas cendrerung pudar/coklat dan ujung paruh bagian bawah warna hitamnya samar-samar atau malah tidak ada.
  6. Di atas mata ada bulu putih (alis), dan sewaktu masih anakan kelihatan seperti titik putih di atas mata bagian depan
  7. Tidak ada bulu atau rambut hitam yang tumbuh di kepala.
Ciblek gunung Monster dimahar Rp. 25 juta.
Ciblek gunung
Ciri ciblek gunung (anakan) jantan:
  1. Kaki lebih besar dan berwarna kecoklat-coklatan
  2. Pen dubur lebih menonjol dan berbulu lebih banyak
  3. Warna lebih tajam dan cenderung seperti berminyak
  4. Kepala lebih besar dengan corak lirik-lirik di kepala bagian atas lebih jelas dan tegas
  5. Paruh lebih tebal dan cenderung lebih gelap
  6. Bulu bagian bawah paruh lebih bersih
  7. Warna kuning di bagian dalam tenggorokan lebih tajam
Ciri ciblek gunung betina:
  1. Kaki lebih kecil dan berwarna kemerah-merahan/pink
  2. Pen dubur kecil dengan hanya sedikit bulu
  3. Warna lebih kusam dan tidak berminyak
  4. Kepala dan paruh lebih kecil dan warna corak lirik-lirik di kepala bagian atas kabur/samar-samar
  5. Paruh tipis dan cenderung berwarna lebih muda (coklat dan atau pink)
  6. Bulu bagian bawah paruh terlihat/terkesan agak kotor
  7. Di bagian dalam tenggorokan berwarna kuning muda.
Demikian sobat beberapa ciri jantan betina burung ciblek kebun dan ciblek gunung. Semoga bermanfaat.